Dilema Perkembangan Teknologi

Pondok Pesanten yang notebene hanya mempelajari Ilmu agama sudah banyak diwarnai ilmu pengetahuan umum yang masuk dalam rangka menyerasikan dan mengimbangi kemajuan zaman, salah satunya pengetahuan tentang teknologi informasi yang perkembanganya semakin hari semakin pesat dan membawa banyak dampak baik dampak negatif maupun positif.

Internet adalah contoh nyata dari pekembangan teknologi yang semakin canggih. Diman-mana semuanya membutuhkan sampai ke pelosok pesantrenpun sekarang sudah menjadi kebutuhan pokok. “Tiada hari tanpa internet” itulah bahasa yang lebih pas untuk saat ini.

Akan tetapi permasalahan yang muncul terkadang pengguna  internet lebih mengambil manfaat internet dari sisi negatifnya dibanding dengan sisi positif. Dimana-mana ditemukan para pengguna  yang lebih sering menggunakanya sebagai bahan hiburan meskipun pada dasarnya mereka sedang disibukan masalah pekerjaan atau tugas yang harus dikerjakan lewat internet.

Dalam kalangan santripun sama halnya demikian jangankan siswa-siswi yang masih duduk di bangku SLTP/SLTA yang sudah menyandang nama mahasiswapun masih sering belum bisa memilah mana yang manfaat dan mana yang kurang bermanfaat dalam internet.Yang lebih tragisnya lagi sampe ada pondok Pesantren yang mengeluh pembayaran SPP dan Syahriah pondoknya berjalan tidak lancar gara-gara sebagian uang santri lebih sering digunakan untuk bermain-main internet dari pada melunasi biaya-biaya sekolah dan pondoknya.

Tidak heran jika ada pondok pesantren yang masih bersikeras untuk membatasi masuknya internet di dalam wilayah pesantren secara bebas. Karena para pengasuh tahu mereka semua belum bisa menggunakanya dengan baik.



7 comments ↓

#   novi on 01.31.10 at 6:14 pm     

dalam menjalani kehidupan seorang manusia dituntut berpikir integralistik antar semua. memisahkan ilmu agama dengan dunia sama saja kita termakan isu sekulerisme. dimana agama disatu sisi maka teknologi disisi yang lain. dalam konteks negara, orang yg berpolitik tak boleh bawa agama. sehingga lama-lama partai islam gulung tikar, lama-lama pula karena agama tak boleh masuk pemerintahan maka jadinya negara yang ‘toghut’.

Padahal, semua sendi ada urusannya dengan agama. karena sebagai orang beragama kita harus membawa nafas beragama disetiap langkah, dari bangun tidur hingga masuk ke kamar kecil. Apa lantas kita (maaf) kentut gak boleh dimasukin agama?!.. padahal kentut itu ciptaan Allah dalam proses metabolismenya tubuh.

So, pertama yang harus dilakukan adalah : ubahlah paradigma pengkotak-kotakan ilmu. Seorang Harun Yahya tidak akan bermanfaat jika beliau tak menguasai iptek. dan berapa tebal buku sejarah menceritakan kebesaran Islam terjadi disaat tokoh2 muslim berilmu bermunculan, dari alkhawirzmi, aljabar, ibnu sina, dll. yg mana ilmunya turut membangun peradaban Eropa yang saat itu sangat ‘gelap’.

sayang kemudian, ISlam pudar, karena ada upaya pemisahan agama dan ilmu. Ilmu pun beralih menjadi milik barat, hingga beberapa abad kemudian internet muncul dari kebudayaan mereka.

kronisnya, kita tak boleh mempelajari itu karena sudah tertanam bahwa ilmu agama adalah alif, ba, ta…

akhirnya seperti yang terjadi di pondok sekarang. Jika ilmu internet dimasukkan dalam nafas agama, dalam arti diajarkan oleh stake holder tentu gak akan salah apa yang mereka lakukan.

Mereka menjadi salah arah bukannya kesalahan mereka sendiri. tapi memang tidak ada yang mengarahkan. thus, sampai kapanpun internet menjadi barang jahat bagi pondok, karena pengurus sudah lebih dulu melabeli jahat. (walaupun berkoar-koar mereka mengatakan internet bermanfaat).

end, merespon kalimat terakhir, jangan menunggu santri bisa menggunakan, sampai kapanpun gak akan bisa kecuali ada malaikat yang membelah dada santri untuk diberi kalam.

AJARKAN , karena internet juga ilmu agama. AWASI, karena santri adalah bagian dari anak didik kita. Jangan cuma diam dan menerima duit sewa warnet doank.

note : dari ilmu internet (google earth) akhirnya diketahui bahwa ribuan masjid di jawa tengah salah kiblat. jadi apakah kita masih mengkotak-kotakkan ilmu.

http://news.okezone.com/read/2010/01/15/340/294586/340/depag-bentuk-tim-khusus-urus-masjid-salah-kiblat

#   Mr.eL on 01.31.10 at 6:53 pm     

Yah,,,tak heran jika orang hanya bisanya ikut-ikutan,
Harusnya mereka malu,,,,mereka yang bisa kok gak mbimbing,,,, gak mau berbagi ilmu,,,,maunya untungnya tok,,,,saat ada kejadian malah ikut-ikutan nyukurin bahkan berani menyalahkan,,,,, Aneh.
“Memang terasa aneh jika melempar batu sembunyi tangan,
Tak heran pula jika orang tak peduli yang sok ikut peduli,
itu semua sebuah dilema yang tak bisa dipungkiri dikalangan kita.
Selamatkan santri, bimbing mereka ,,,

Sorry bukan lagi nyalahin siapa2 ni semua memang harus menjadi koreksi kita apalagi posisi kita sejajar. salam PiZZZ…

#   In'am on 01.31.10 at 7:11 pm     

“Tak ada pengkotakan Ilmu dalam Islam” setuju. Ya wong semua itu ciptaan-Nya. Kalaupun di kemudian hari (hari ini) banyak yang memilah-milah, itu jelas bukan berasal dari Islam. “Sekulerisme” Kata Mas Novi.

Pesantren sebagai lembaga Pendidikan Keislaman pun tentu sangat memahami pengertian ini. Terbukti, di berbagai pesantren tanah air, sejumlah pesantren memasukkan berbagai muatan ketrampilan pada kurikulumnya. Ada pesantren yang kemudian hari terkenal dengan Ukiran santrinya di Jepara, Pesantren dengan Ketrampilan santrinya dalam tata busana, terkenal dengan Budidaya perikanan yang dikelola oleh santrinya dan lain sebagainya. Dengan satu catatan penting-tanpa mengurangi sedikitpun proses pendidikan keagamaan di pesantren.

Terakhir, sebuah petikan lagu Almarhum Megi Z “Tak usah kau berlayar jika takut gelombang” semua ini adalah proses, butuh pengorbanan dan tentu kesabaran. Kesulitan yang ada hendaknya menjadi pelajaran berharga, untuk usaha lebih baik di masa depan. Seorang Muslim tak jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

#   ZADA on 01.31.10 at 7:16 pm     

berangkat dari sejarah adam di ajarkan oleh Alloh untuk mngenal semua nama yang ada di dunia ini, fungsi akal manusia dan naluri akan keinginan raga manusia disitu lah peran sebagai eksisitensi kekholifahannya. kita sebagai warga muslim yang patuh akan ketentuan Alloh dan sunah rosul sesyogyanya tidak menafikan itu,,akal karunia terbesar yang diberikan Alloh kepada manusia haruslah di gunakan untuk mencerna apa yang ada di dunia yang otomatis harus berada di rel syriat yang diwahyukan.sejalan dengan perkembangan teknologi yang anda kemukakan memang itu sebuah dilema yang mana kita harus berlumuran terjun kedalamnya, bukan karena terpaksa atau hoby. pertma kita berangkat dari rasa syukur kpd Alloh bisa mengenal hal trsbt yang sebagai implementasinya adalah pendayagunaan multi fungsi akal kita dalam mengolah eksfor impor informasi. hal ini juga dpt digunakan sebagai benteng dan sumber kreatifitas muslim dalam percaturan globalisasi dunia….yang harus kita pegang dan kita ajarkan kepada semuanya baik kita, karib bahkan anak didik kita adalah kunci dari pemahaman internet,,dalam hal ini saya kemukakan bahwa kunci dari semua itu adalah imtaq masing-masing individu.
ingatlah sabda rosul”sesungguhnya Alloh telah mewajibkan sekian kewajiban , maka janganlah mengabaikannya. dan menetapkan sekian batas, maka janganlah melampauimya.Dia juga mengharamkan sekian hal,maka janganlah mendekatinya dan ada pula hal hal yang didiamkan-karena kasih sayang nya terhadap kamu=bukan karena lupa( yang demikian adalah hal hal yang dibolehkan-Nya), maka janganlah membahasnya (HR. AD Daruqutni melalui tsa’labah al-khusyaini). ajarkan anak didik kamu tentang kunci itu,,,,,,,,,semoga jasa mulya kamu adalah amal bagi akheratmu.thanks

ooo….

#   putu on 01.31.10 at 7:55 pm     

Kalo menurut saya sih lebih baik kita mengingat kembali perkatan Alm Gus dur “Begitu aja kok Repot”; Pondok harusnya ikuti perkembangan jaman, jadi cara pembelajaran menyesuaikan jaman. jangan gara2 karena rugi dalam komersil penggunaan internet dibatasi apalagi sampai ditadakan.

Jangan sampai karena mengeluh karena pembayaran SPP dan Syahriah berkurang pihak pondok membredel dan mengikat pengetahuan umum yang merupakan hak setiap santri.

trims…masukanya

#   sawali tuhusetya on 01.31.10 at 8:41 pm     

salut dengan para santri malhikdua yang sudah sangat firendly dan akrab dengan internet. melalui media virtual, pasti akan banyak ilmu dan pengetahuan yang didapat. semoga kehadiran internet bisa memberikan dampak positif bagi dunia pesantren. jangan sampai dimanfaatkan utk main game online atau membuka situs2 parnok, hehe …

amin…..trims…

#   damai_wardani on 02.21.10 at 3:50 pm     

@sawali tuhusetya
setuju, pak Dhe.

Leave a Comment